Pantang Menyerah

Kisah tentang seorang lelaki

Mencari nafkah sehari-hari

Untuk menghidupi diri sendiri

Berbekal ijasah s1 yang dimiliki

Belum lulus pun dia sudah mengabdi

Disalah satu perusahaan dalam negeri

Setelah beberapa lama dia malah mengundurkan diri

Padahal karir sudah mulai didaki

Memutuskan hijrah menjadi penjual bakmi

Tak lupa berbagi sebagian rizki

Mari kita simak kisah ini, hanya disini…

Panggil saja Fulan (bukan nama sebenarnya). Dia berkuliah di salah satu perguruan tinggi di kota Yogyakarta. Untuk membiayai kuliahnya di bekerja sambil kuliah. Di akhir-akhir masa kuliahnya, dia sudah bekerja di sebuah perusahaan dalam negeri. Itu pula yang menyebabkan masa kuliahnya mundur dari waktu yang seharusnya. Tapi setelah lulus kuliah dia tidak perlu bingung lagi dengan status sebagai pengangguran. Fulan sudah kerja, jadi lulus langsung lanjutin aja kerjaannya.

Keputusan Untuk Berhenti

Suatu hari Fulan nampak sedang berbenah merapikan halaman depan rumahnya. Gak tau mau dibuat jadi apa itu depan rumah. Tapi nampak sebuah gerobak yang ukurannya lumayan besar sudah ada di pojokan. Rupanya Fulan sedang mempersiapkan usahanya. Dia mau jualan bakmi.

Rupanya Fulan sudah keluar dari pekerjaannya beberapa hari yang lalu. Dia ingin fokus jadi wirausaha. Bukan karena pekerjaannya gak enak atau apa, tapi ya karena dia pengen bisa punya usaha sendiri. Makanya dia mulai dari jualan bakmi.

Bakmi Enak

Ilustrasi Bakmi

Tapi rupanya setelah berjalan beberapa waktu, usahanya kurang berhasil. Akhirnya bakso cinta pun tutup di usia yang masih muda, hiks.

Usaha Yang Berkembang

Tidak kenal menyerah singkat cerita, Fulan menemukan usaha yang sangat bagus, dia sudah bisa membeli sebuah mobil dari hasil usahanya. Tak lupa apa yang didapatnya itu ia bagikan hak dari sebagian hartanya kepada orang lain. Dia berpegang pada agamanya, bahwa disebagian harta yang Allah berikan kepada kita, terselip hak orang lain di sana.

Berbagi itu gak akan rugi, rizki yang diberika kepada Fulan malah bertambah. Sering sekali dia berbagi dari apa yang dia dapatkan hari itu.

Ketika Ujian Datang

Merenungkan Perbuatan yang Kita Perbuat

Merenungi apa-apa yang sudah kita perbuat

Sampai tiba-tiba Allah mengujinya dengan sebuah ujian. Dia ditipu oleh rekan bisnisnya, semua ludes gak bersisa. Otomatis, mau gak mau, Fulan harus bangkit dari keterpurukan itu. Dia sama sekali tuh gak pasang wajah murung atau sedih. Tetep semangat hadapin hidup yang terus berjalan dan harus dilalui.

Pernah suatu hari, ketika sedang bertemu dengan kawan Fulan. Kawannya ini ditanya oleh Fulan, “Bro, udah berapa milyar sekarang omsetnya?”. Di mana tuh logikanya? Orang dia lagi jatuh, masih mencoba merintis usaha dari awal lagi, lha malah tanya omset temennya berapa. Hmmm, Emang keren nih Fulan, masih ada kekuatan dalam dirinya. Kalau aku nganggaepnya masih ada kepercayaan dalam dirinya, bahwa Allah gak akan memberikan cobaan yang gak bisa dilalui oleh hambanya. Catet tuh, jadi orang jangan gampang putus asa.

Jadi teringat kata-kata seorang guru. Kalau kita bekerja senilai sepuluh juta tapi kita hanya digaji satu juta. Maka kelebihan yang sembilan juta itu menjadi tabungan kita kelak di akhirat. Jadi gak usah khawatir tentang apa yang kita usahakan, tapi khawatir kenapa kita gak segera usaha.

Lanjut lagi cerita tentang Fulan. Setelah mencoba beberapa bisnis, sekarang dia sudah memiliki usaha yang bisa di bilang tetap. Dia sekarang berjualan secara online. Pertama-tama sih hanya satu barang aja. Tapi lama-kelamaan tambah produk yang lain, dan sekarang jualannya gak cuma satu barang aja.

Mungkin cuma itu aja yang bisa diceritakan, semoga kita dapat meniru kegigihan perjuangan Fulan dalam menjalani hidup ini. Jangan lupa, juga tentang pohon pisang yang kemarin ya.

 

One Response

  1. Ina March 5, 2015

Leave a Reply