Mengabdi Untuk Negeri

Kisah tentang sekelompok pemuda dan pemudi
Mengabdikan diri di pelosok negeri

Awal Mula

Ketika malam telah larut, tiba-tiba telepon seorang kawan berbunyi. “Eh, sido melu kelompokku ora? (eh, jadi ikut kelompokku engaak?)”, terdengar suara lirih dari telepon. Itulah saat pertama kali diajak masuk kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) oleh seorang kawan.Kelompok yang belum ku ketahui wujud makhluk yang ada di dalamnya. Tapi lisan ini langsung mengiyakan ketika diajak untuk bergabung dengan kelompok tersebut.

Seiring berjalannya waktu anggota baru terus bertambah, sampai berjumlah 25 orang. Terdiri dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda. Mulai dari teknik sampai kesehatan pun ada. Bersatu padu membangun sebuah kelompok untuk mengabdi di sebuah negeri nan jauh disana.

Komunitas yang berisi berbagai karakter memang tak mudah untuk menyatukannya. Beda argumen maupun pemikiran itu biasa. Tapi itu akan membuat sebuah komunitas itu menjadi lebih kompak dan solid. Bukan semata karena terjadinya komunikasi antar anggota yang lebih intens, tetapi juga terjadi penyelarasan pola pikir dari setiap individu, dan itu tidak serta-merta terjadi. Persamaan pemikiran itu terjadi seiring berjalannya waktu dan seberapa sering bertatap muka dengan anggota kelompok yang lain.

Selain perbedaan pasti juga ada persamaan, terutama untuk apa kami tergabung dalam suatu kelompok. Tujuan utama kelompok KKN ini adalah untuk mengabdi. Mempraktekkan ilmu yang sudah didapatkan selama masa perkuliahan. Ilmu-ilmu yang dapat bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk masyarakat umum. Persamaan pemikiran itu jugalah yang menjadikan kelompok KKN ini menjadi lebih solid lagi, lebih kompak tak terhancurkan, hehehe.

Pemenuhan Hajat Hidup

Singkat cerita, pengumuman bahwa kelompok KKN ini disetujui proposalnya untuk melakukan KKN. Setelah itu kami kebingungan mencari dana untuk menjalankan berbagai program yang telah direncanakan. Selain untuk program, dana juga digunakan untuk membiayai perjalanan dan hajat hidup kami berduapuluhlima.

Proposal dibuat dalam jumlah banyak, mulai dari proposal permintaan dana hingga proposal dan publikasi pencarian buku bacaan untuk perpustakaan. Dari sekian banyak proposal yang dibuat, ternyata banyak, banyak yang ditolak, nikmat sekali rasanya. Nikmatnya tuh di kantong, ketika harus merogoh kocek dari kantong sendiri untuk biaya perjalanan dan hidup di negeri seberang. Memang awalnya sudah diniatkan untuk mengabdi, apapun permasalahan yang dihadapi tetap lanjutkan langkah kaki.

Rencana Cadangan

Setelah memasukkan proposal dan kebanyakan ditolak, maka ambil strategi yang lain. Dari mulai jualan minuman, jualan bunga di acara wisudaan, sampai mengumpulkan kertas bekas untuk dikilokan. Semua dilakukan demi mendapatkan dana untuk menjalankan program. Banyak kelompok yang mencari dana dengan ngamen misalnya, tetapi kurang sreg di hati. Saat ingin membantu masyarakat tapi mencari dananya dengan cara meminta-minta. Kita kaum intelek bung!

Maksimalkan usaha, pasrah dalam doa, bahasa kerennya tawakal. Ketika semua usaha sudah dilakukan, tapi belum membuahkan hasil yang maksimal, berarti usaha kita ya senilai dengan apa yang kita dapatkan. Gimana mau dapat 10 juta, lha wong usahanya hanya 1 juta. Maka dari itu, maksimalkan usaha. Bikin proposal sebenernya gak sulit, yang sulit itu diterimanya, hho. Tapi, ketika proposal hanya sebatas proposal saja, tanpa ada persetujuan ya kita cari dana dengan yang lebih elegan.

Strategi Pamungkas

Waktu sudah mepet, jadwal keberangkatan hampir tiba, tapi dana belum terkumpul juga. Akhirnya langkah terakhir diambil. Tiket keberangkatan semenatara memakai uang sendiri, nanti ketika ada dana, barulah dikembalikan.

Negeri Seberang

Negeri Seberang

Itulah sepenggal kisah, diawal perjalan menuju ke negeri seberang, semoga dapat melanjutkan kisah ini. Kemanakah sebenarnya tujuan tim ini? Baca kisah selanjutnya..