Tanaman Hidroponik dan Cara Menanamnya dengan Berbagai Metode

Tanaman Hidoponik – Apa yang kamu bayangkan ketika mendengar tentang tanaman hidroponik? Mungkin akan terbayang tanaman yang mengambang di atas air ya? Nggak salah sih, tapi kalau yang terbayang tanamannya berada di kolam yang besar, itu masih kurang tepat.

Hidroponik ini merupakan salah satu cara menanam yang tidak menggunakan media tanah. Cocok banget buat kamu yang lahan di rumah sempit, tapi pengen mencoba bercocok tanam. Bahkan, kalau di rumah kamu cuma ada ruangan di atas bangunan yang memungkinkan untuk membangun sistem hidroponik ini, itu bisa dilakukan.

Cara menanam yang anti mainstream ini semakin banyak digemari lho. Bahkan, ada hotel di dekat rumah saya yang menggunakan metode bercocok tanam ini di tembok samping bangunan hotelnya. Tapi jangan dibayangkan kalau pemula bikin hidroponik lho ya, di hotel tersebut peralatannya sudah keren banget, dibuat dengan serius.

Pengertian Hidroponik

Hidroponik

camarillohydro.com

Sebelum belajar lebih lanjut tentang tanaman hidroponk, sebaiknya kita mengenal tentang apa itu hidroponik. Hidroponik adalah salah satu cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai medianya. Hidroponik menggunakan media air yang sudah dicampur dengan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan tanaman.

Tanaman Hidroponik

Tidak semua tanaman bisa dibudidayakan dengan cara hidroponik. Kebanyakan, jenis tanaman yang memiliki bentuk yang kecil dan dari jenis sayuran. Berikut ini ada beberapa tanaman yang bisa kamu coba untuk dibudidayakan secara hidroponik.

1. Buah Strawberry Hidroponik

2. Timun Hidroponik

Timun hijau

exeterengineering.com

3. Tomat Hidroponik

Tomat merah

en.wikipedia.org

4. Terong Hidroponik

5. Pare Hidroponik

6. Bayam Hidroponik

Bayam Hijau

manfaatkhasiat.com

7. Pakcoy Hidroponik

Bok Choy - Pak choy

magictower.com

8. Sayuran Sawi Hijau

Sawi hijau

pasarinduk.id

9. Selada Hijau Hidroponik

10. Kangkung Hidroponik

Kangkung hijau

id.wikipedia.org

11. Sayuran Kailan

12. Brokoli Hidroponik

Brokoli hijau

pelangiflora.com

13. Sayuran Hidroponik Cabe

Cabe merah besar - cabai merah

wonderopolis.org

14. Buncis Hidroponik

Jenis Hidroponik

Ada beberapa jenis teknik atau sistem yang digunakan untuk bercocok tanam menggunakan metode hidroponik. Sekarang kita akan membahas delapan macam sistem tersebut.

1. Sistem Hidroponik Aeroponik

Hidroponik Aeroponik Tekanan Tinggi

taman-berkebun.blogspot.co.id

Jenis yang pertama ini merupakan sebuah sistem yang namanya terdiri dari dua kata, yaitu aero dan poniq. Aero artinya udara, sedangkan poniq berarti cara budidaya. Kalau diartikan menurut arti bahasanya, aeroponik adalah sebuah sistem penanaman dengan menggunakan udara dan ekosistem air.

Jika memilih metode ini, kamu membutuhkan bantuan teknologi sederhana untuk menempatkan tanaman, sehingga akar tanaman terlihat menggantung. Prinsip dari aeroponik yaitu dengan memanfaatkan air nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Air nutrisi akan dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi butiran kecil atau kabut.

Pengabutan dalam metode inilah yang menggunakan teknologi berupa pompa air yang diletakkan dalam bak penampung dan disemprotkan memakai nozzle. Air nutrisi akan mengenai akar tanaman sehingga lebih cepat diserap.

Pemilihan sistem hidroponik aeroponik ini sangat cocok untuk budidaya tanaman. Hal ini dikarenakan, ketika menggunakan metode aeroponik, tanaman akan mendapatkan dua hal, pertama adalah nutrisi, yang kedua oksigen, dan keduanya diperoleh secara bersamaan.

Proses di atas memberikan keunggulan pada cara budidaya ini. Proses oksigenasi akan terjadi langsung sampai ke akar dan dimulai dari tiap air yang dikabutkan dan sudah dicampur dengan nutrisi unsur haranya.

Dengan keunggulan tersebut, banyak pembudidaya yang menerapkan teknik ini, dan kebanyakan mereka puas. Sayuran yang ditanam dengan metode aeroponik akan memiliki kualitas yang baik, segar, higienis, memiliki aroma sedap, renyah, dan cita rasa khas.

Selain keunggulan di atas, ada beberapa kelebihan kenapa kamu harus memilih metode ini.

  • Sistem aeroponik ramah lingkungan karena dapat menghemat air.
  • Lahan yang digunakan tidak perlu luas, dapat menggunakan lahan kecil saja.
  • Akar yang menggantung akan membuat lebih banyak oksigen yang diterima.
  • Mengurangi kemungkinan tumbuhnya patogen berbahaya.
  • Tenaga kerja yang dibutuhkan tidak banyak.
  • Tanaman akan lebih mudah berfotosintesis.
  • Hanya membutuhkan air yang cukup, tidak memerlukan tanah.
  • Tanaman yang dihasilkan kualitasnya lebih baik, kuantitas bisa lebih banyak, dan bisa dihasilkan tanaman secara kontinyu.

Selain kelebihan, tentu ada kekurangan menggunakan metode ini.

Kita harus selalu mengontrol sistem pengabutan, jika tidak dikontrol dengan benar, akar yang menggantung akan cepat mengering karena kesalahan pada pengabutan.

Cara Menanam dengan Metode Aeroponik

Tanaman hidroponik yang akan ditanam menggunakan metode ini membutuhkan cara yang benar. Sebelumya, siapkan dulu peralatan yang dibutuhkan sebelum kita memulai untuk mengaplikasikan sistem aeroponik.

Alat

  • Pompa air atau jet pump
  • Jaringan irigasi sprinkler
  • Nozzle sprinkler
  • Pipa etilen
  • Pipa paralon
  • Styrofoam
  • Rockwool
  • Larutan Nutrisi
  • Benih tanaman

Dari beberapa alat di atas, ada satu alat bernama sprinkler, alat ini berfungsi untuk menjamin ketepatan waktu saat penyiraman. Selain itu, fungsi lain sprinkler ini juga untuk mengatur jumlah air yang digunakan dan keseragaman ketika air didistribusikan ke seluruh permukaan akar tanaman.

Sprinkler ini akan sangat membantu dalam menciptakan uap air di udara sehingga dapat mengenai seluruh permukaan dan memberikan lapisan air pada akar. Kabut air juga akan membantu menurunkan suhu di sekitar daun sehingga akan mengurangi transpirasi pada tanaman.

Untuk menjalankan metode aeroponik ini, pertama-tama kita harus mengatur sitem pengabutan pada jet spray secara intermittend. Caranya adalah dengan menggunakan tombol on-off yang sudah diseting menggunakan timer.

Metode aeroponik ini sangat perlu dikontrol pengabutannya, jika pengabutan mati tidak lebih dari 15 menit, tanaman akan tetap tumbuh. Tetapi, kita harus segera memerhatikan pompa air, karena jika lebih dari 20 menit, akar tanaman akan mengering dan akhirnya mati.

Kelebihan Sistem Aeroponik

Ada beberapa kelebihan yang bisa kamu dapatkan jika menggunakan sistem aeroponik ini.

  • Kebutuhan air tanaman dapat terpenuhi dengan baik dan mudah.
  • Akar tanaman dapat dikendalikan pertumbuhannya.
  • Dapat memroduksi tanaman sampai beberapa kali lipat dengan periode tanam yang lebih pendek.
  • Konsentrasi dan keseragaman nutrisi dapat kita atur sesuai dengan kebutuhan tanaman berdasar umur dan jenisnya.
  • Sistem aeroponik dapat menjadi bahan eksperimen sebab ada variable yang bisa dikontrol.

Dengan bebapa kelebihan tersebut, ada satu hal yang membuat orang berfikir untuk menerapkannya, cost yang tinggi. Cost atau biaya yang dibutuhkan cukup tinggi, untuk investasi peralatan dan biaya perawatan.

Selain itu, metode ini juga menggunakan listrik yang saat ini tidak murah harganya. Tanaman juga akan mudah terkena penyakit jika tidak dirawat dengan benar.

2. Sistem Hidroponik Nutrient Film Technique (NFT)

Hidroponik NFT System

petanidota.blogspot.com

Sistem Nutrient Film Technique atau NFT adalah salah satu sistem yang spesial dalam hidroponik. Sistem ini pertama kali dikembangkan oleh Dr. A. J. Cooper di Glasshouse Crops Research Institute, Littlehampton yang ada di Inggris. Dikembangkan awalnya pada tahun 1960-an dan mulai menjadi komersial di awal tahun 1970-an.

Konsep dasar dari NFT adalah sebuah metode budidaya tanaman dengan akar yang tumbuh pada lapisan nutrisi dangkal dan tersirkulasi. Hal tersebut akan membuat tanaman dapat memperoleh air, nutrisi, dan oksigen yang cukup.

Dengan metode NFT ini, tanaman akan tumbuh dalam lapisan polietilen dan akarnya terendam dalam air yang mengandung nutrisi. Air tersebut kemudian dialirkan atau disirkulasikan secara terus menerus menggunakan pompa.

Daerah perakaran akan terkena air nutrisi yang dangkal dapat berkemabng dan tumbuh. Bagian atas akar tanaman akan berada di antara air nutrisi dan styrofoam. Akar yang ada di udara tersebut akan memungkinkan kebutuhan oksigen terpenuhi sehingga tanaman akan tumbuh dengan baik.

Teknik NFT ini memiliki aliran air yang konstan, sehingga kita tidak butuh timer untuk mengontrol pompa air. Air nutrisi akan dipompa ke growing tray atau tempat untuk meletakkan tanaman. Biasanya growing tray berupa tabung, lalu air nutrisi akan mengalir melewati akar tanaman yang kemudian mengalir kembali ke dalam bak penampungan.

Tanaman yang dibudidayakan menggunakan metode ini biasanya ditempatkan pada tempat sejenis keranjang plastik, sehingga akarnya menggantung dan ujungnya terkena aliran air nutrisi.

Pada umumnya, tidak ada media tumbuh selain udara dalam metode ini, sehingga kita dapat menghemat penggantian media tumbuh setelah panen. Tetapi, tetap saja dibutuhkan media saat masa persemaian biji sampai ketika bibit siap dipindahkan ke sistem NFT.

Untuk membuat sistem NFT, kita membutuhkan perangkat berupa talang atau bed, tangki penampung, dan pompa air. Salah satu perangkat yang berupa bed, di beberapa negara maju sudah diproduksi secara masal. Biasanya disediakan oleh perusahaan supplier greenhouse dan pertanian. Contohnya saja di Jepang, di negara ini, bed terbuat dari styrofoam.

Tetapi, untuk negara kita ini, hal seperti itu masih belum banyak, kebanyakan petani di Indonesia menggunakan talang rumah tangga yang memiliki ukuran lebar antara 13-17 cm dan panjangnya 4 meter. Tempat penampungan airnya menggunakan tandon air.

Pompa yang digunakan dalam sistem hiroponik ini adalah untuk mengalirkan air nutrisi dari tangki penampung ke bed NFT. Penyaluran air ini tentu saja membutuhkan jaringan selang distribusi.

Ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan saat membuat instalasi NFT, kemiringan talang yang dibuat sekitar 1-5 derajat. Hal tersebut dilakukan untuk membuat air mengalir. Kecepatan aliran pun tidak boleh terlalu cepat, untuk mengaturnya, kita bisa membuka kran sekitar 0,3-0,75 liter/menit. Lebar talang juga harus memadai agar terhindar dari terbendungnya air nutrisi.

Menurut Cooper, yang dikemukakannya pada tahun 1972, NFT merupakan sebuah sistem yang menggunakan “film” larutan nutrisi. Film yang dimaksud adalah lapisan tipis dengan tebal 1-3 mm, dialirkan melewati akar tanaman secara terus menerus menggunakan pompa. Kecepatan aliran airnya sekitar 1-2 liter/menit.

Srikulasi larutan nutrisi dapat digunakan terus sampai beberapa minggu sesuai dengan kebutuhan tanaman. Akar tanaman sebagian akan terendam larutan nutrisi dan sebagiannya lagi berada di atas permukaannya.

Faktor utama yang memengaruhi perkembangan tanaman saat menggunakan metode NFT adalah ketersediaan nutrisi penunjang yang sesuai dengan jenis dan umur tanaman. Selain itu, kecepatan aliran larutan nutrisi yang stabil juga dapat memengaruhi perkembangan tanaman.

Ketika kita menggunakan sistem NFT ini, ada beberapa keuntungan yang kita dapatkan. Seperti mudahnya dalam pengendalian daerah perakaran, kebutuhan air tanaman dapat terpenuhi dengan baik, keseragaman nutrisi yang didapatkan dan konsentrasi larutan nutrisi yang dibutuhkan tanaman dapat kita sesuaikan denga njenis tanaman dan umurnya.

Selain itu, sistem NFT juga cocok untuk penelitian karena variable-nya dapat dikontrol dan memungkinkan untuk meningkatkan produktifitas tanaman.

Tetapi, disamping kelebihan, tentu aja juga kelemahan dari sistem NFT ini, seperti modal awal cukup besar, biaya perawatan yang mahal, sangat tergantung dengan listrik, jika satu tanaman terkena penyakit maka akan cepat menyebar ke tanaman lainnya.

Alat-alat yang Dibutuhkan untuk Sistem NFT

Jika akan membuat instalasi NFT, siapkan dulu alat yang dibutuhkan di bawah ini.

  • Talang air
  • Pompa air
  • Pipa PVC
  • Media tanam, dapat berupa styrofoam atau busa jika dibutuhkan
  • Bak air

Kelebihan Sistem NFT

  • Air dan nutrisi yang digunakan lebih hemat.
  • Tanaman memeroleh suplai air, oksigen, dan juga nutrisi secara terus menerus.
  • Perawatan lebih mudah karena tidak perlu menyiram tanaman.

Kekurangan Sistem NFT

  • Penyakit menular lebih cepat.
  • Biaya untuk membuat instalasinya bisa dibilang mahal.
  • Ketergantungan terhadap listrik untuk menghidupkan pompa air.

3. Sistem Hidroponik Drip System

Sistem drip hidroponik

petanitop.blogspot.co.id

Sitem drip atau dikenal juga dengan Drip Irrigation System adalah salah satu metode dalam menanam hidroponik. Prinsip kerjanya seperti kita menyiram tanaman, yaitu dengan memberikan nutrisi dalam bentuk tetesan air secara terus menerus sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Tetesan air nutrisi ini diberikan tepat pada daerah perakaran tanaman. Hal tersebut bertujuan agar tanaman dapat langsung menyerap air dan nutrisi.

Dengan cara tersebut, tanaman akan mendapatkan kebutuhan nutrisinya setiap saat. Kita bisa mengatur tetesan air nutrisi untuk mencegah terjadinya genangan ataupun kekeringan.

Pada drip system, kita menggunakan timer, fungsinya untuk mengontrol pompa air. Ketika timer dihidupkan, pompa air akan hidup, pompa tersebut akan mengalirkan air nutrisi ke sebuah alat yang akan meneteskan larutan ke dasar tanaman.

Menggunakan sistem drip ini cukup menguntungkan lho. Ketika air nutrisi masih tersisa, maka akan dikumpulkan kembali pada bak penampung dan bisa digunakan lagi, hal itu disebut dengan sistem recovery. Jadi, pengguaan larutan air nutrisi menjadi lebih efisien karena bisa dipakai kembali.

Dengan adanya sistem recovery, kita dapat menggunakan timer yang lebih murah karena tidak perlu kontrol yang sangat tepat dalam pengaturan siklus airnya.

Sedangkan pada non-recovery drip system, kita tidak menggunakan penampungan kembali air nutrisi yang tersisa. Hal tersebut tentu membutuhkan timer yang lebih tepat sehhingga siklus air dapat diatur dengan sangat tepat untuk memastikan tanaman mendapatkan nutrisi yang cukup dan air nutrisi yang terbuang menjadi minimal.

Tetapi, dengan menggunakan sistem non-recovery, perawatan yang dilakukan menjadi lebih sedikit karena sisa air nutrisi tidak kembali ke bak penampung, sehingga pH dan juga nutrisi pada bak penampung tidak berubah.

Dengan tidak berubahnya pH dan nutrisi dalam bak penampung, maka kita dapat mengisinya dengan air nutrisi yang sudah diatur pH-nya dan kemudian tinggal ditinggal sampai dibutuhkan pencampuran lagi.

Jika kita menggunaan sistem recovery, pH dan konsentrasi nutrisi dapat berubah sehingga kita membutuhkan pengecekan dan pengaturan secara berkala.

Setelah mengetahui tentang sistem drip, berikut ini ada beberapa alat yang kita butuhkan sebelum membuatnya.

Alat-alat yang Dibutuhkan untuk Membuat Sistem Drip

  • Pompa air / pompa aquarium
  • Selang air
  • Jarum suntik untuk membuat air menetes atau alat penetes khusus hidroponik
  • Media tanam
  • Polybag / pot
  • Bak penampung air

Setiap cara, tentu saja ada kekurangan dan juga kelebihannya. Nah, dalam drip system ini juga terdapat kekurangan dan kelebihannya.

Kelebihan Drip System

  • Tanaman akan mendapatkan suplai air dan nutrisi terus menerus.
  • Air dan nutrisi yang digunakan menjadi lebih hemat karena diberikan sedikit demi sedikit.
  • Biaya untuk pembuatan drip system relatif murah.

Kekurangan Drip System

  • Jika menggunakan media tanam yang terlalu padat, maka oksigen akan susah didapatkan tanaman.
  • Bak penampung yang digunakan tidak akan terlalu menghemat air dan nutrisi karena penguapan, tertahan pada media, atau lebih banyak hilang terserap tanaman.

Leave a Reply