Monumen Jogja Kembali, Wisata Sejarah Mengenang Perjuangan Pahlawan

Monjali – Ketika berkunjung ke Yogyakarta, biasanya wisatawan akan mengunjungi tempat wisata alam yang ada di kota ini. Mau ke gunung tinggal ke utara Jogja, kalau mau ke pantai tinggal ke selatan kota. Ada banyak sekali wisata alam yang bisa memanjakan mata kita.

Tapi tahukah kamu? Di Jogja juga banyak monumen dan moseum yang bisa menambah pengetahuan kamu lho. Salah satu tempat wisata di Jogja berupa monumen yang menarik untuk dikunjungi adalah Monjali, atau kepanjangannya adalah Monumen Jogja Kembali.

Monjali sebenarnya adalah lambang dari berfungsinya kembali Pemerintahan Republik Indonesia dan menjadi bukti sejarah mundurnya pasukan Belanda dari Jogja pada tanggal 29 Juni 1949. Selain itu, Monjali juga menjadi bukti sejarah kembalinya Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta serta pejabat lainnya pada tanggal 6 Juni 1949 di Jogja, setelah sebelumnya diasingkan di pengasingan.

Sejarah yang terjadi di Kota Yogyakarta ini terjadi pada tanggal 1 Maret 1949 jam 6 pagi WIB. Tiba-tiba terdengar suara sirine dari pos pertahanan Belanda, tanda sudah masuk waktu istirahatnya pasukan Belanda.

Bersamaan dengan pergantian waktu tersebut, Letkol Soeharto yang saat itu adalah Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III, mulai bergerak dan menggempur pertahanan Belanda. Pergerakan tersebut setelah mendapat persetujuan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX, sang penggagas serangan yang dilakukan.

Pasukan Belanda yang sejak Agresi Militer Belanda II di bulan Desember 1948 disebar ke pos-pos kecil, jadi terpencar dan melemah. Dalam waktu enam jam, Tentara Nasional Indonesia (TNI) berhasil menduduki Yogyakarta, setelah memaksa mundur pasukan Belanda dari kota tersebut.

Pada pukul 12 siang, pasukan TNI menarik diri dari pusat kota, seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, karena sudah memerkirakan pasukan bantuan Belanda akan datang.

Pertempuran yang terjadi itu dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret, sebagai bukti pada dunia bahwa TNI masih mempunyai kekuatan untuk mengusir dan melawan penjajah yang menyengsarakan rakyat keluar dari Republik Indonesia.

Belanda yang mengetahui perihal pertempuran tersebut marah dan akhirnya menangkap Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta. Kedua pemimpin Indonesia tersebut diasingkan ke Sumatra, lalu Belanda membuat propaganda, dengan menyebar opini bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada lagi.

Berita tentang perlawanan yang dilakukan TNI selama enam jam ini akhirnya sampai juga ke Wonosari, kemudian diteruskan ke Bukit Tinggi, lalu Birma, New Delhi, dan berakhir di kantor PBB yang ada di New York.

Setelah mengetahui berita tersebut, PBB yang sudah menganggap Indonesia telah merdeka memaksa untuk diadakan Komisi Tiga Negara. Akhirnya diadakan pertemuan yang berlangsung di Hotel Des Indes Jakarta pada tanggal 14 April 1949. Indonesia saat itu diwakili oleh Moh. Roem dan orang yang mewakili Belanda adalah Van Royen.

Dari hasil pertemuan tersebut, ditangdatanganilah sebuah perjanjian pada tanggal 7 Mei 1949. Perjanjian ini kemudian disebut sebagai perjanjian Roem Royen. Isi perjanjian Roem Royen adalah Belanda dipaksa untuk menarik pasukan dari Indonesia dan memulangkan Presiden serta Wakil Presiden kembali ke Yogyakarta. Sampai akhirnya pada tanggal 27 Desember 1949, Belanda secara resemi menyerahkan kedaulatan kembali kepada Republik Indonesia.

Pembangunan Monjali

Monjali

akcayatour.com

Pada tanggal 29 Juni 1985, untuk mengenang sejarah perjuangan para pembela bangsa, dibangunlah Monumen Jogja Kembali. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Hamengku Buwono IX, setelah melakukan upacara penanaman kepala kerbau.

Setelah empat tahun, tepatnya pada tanggal 6 Juli 1989, bangunan setinggi 31,8 meter ini akhirnya selesai dibangun. Pembukaan monumen ini diresmikan oleh Presiden Suharto dengan menandatangani sebuah prasasti.

Letak Monjali

Monjali terletak di Dusun Jongkan, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman. Jika dilihat, monumen ini berbentuk seperti gunung, yang merupakan perlambang kesuburan, atau memiliki arti melestarikan budaya nenek moyang.

Letak dari monumen ini juga mengikuti budaya yang ada di Jogja, posisinya ada di sumbu imajiner yang menghubungkan antara Gunung Merapi, Tugu Jogja, Kraton, Panggung Krapyak, dan Parangtritis.

Monjali dibangun di atas tanah seluas 5,6 hektar, kamu bisa melihat titik imajiner saat berada di lantai tiga, tepatnya pada tiang bendera yang ada di atas.

Masuk ke Monjali

Senapan Mesin Monjali

panduanwisata.id

Ketika masuk ke Monjali, kamu akan disambut dengan replika pesawat Cureng yang ada di dekat pintu timur, dan replika pesawat Guntai di dekat pintu barat. Naik ke teras monumen dari sebelah barat dan timur, kamu akan melihat dua senjata mesin beroda.

Di ujung selatan pelataran, kamu dapat melihat sebuah dinding dengan 420 nama pejuang yang gugur antara tanggal 19 Desember 1948 sampai 29 Juni 1949, serta terdapat juga sebuah puisi karya Chairil Anwar yang berjudul Karawang Bekasi. Puisi tersebut didedikasikan untuk mengenang pahlawan yang tidak diketahui namanya.

Jika kamu ingin memasuki bangunan utama, ada empat jalan yang bisa dipilih. Jika kamu masuk melalui jalan dari timur dan barat, maka akan menuju ke pintu masuk lantai satu. Di lantai pertama ini, ada empat ruang museum yang menampilkan sekitar 1000 koleksi yang ada hubungannya dengan Serangan Umum 1 Maret.

Selain itu, ada juga seragam tentara pelajar dan kursi tandu yang digunakan Panglima Besar Jendral Sudirman. Selanjutnya, terdapat ruang sidang utama, letaknya ada di sebelah ruang museum 1. Di samping itu, kamu juga bisa menemukan ruangan untuk seminar ataupun pesta pernikahan dengan diameter ruangan 25 meter.

Jika kamu melewati jalan utara dan selatan, maka akan menemukan tangga untuk menuju ke lantai dua. Dinding yang ada di luar lantai ini terdapat 40 relief ukir yang menceritakan tentang perjuangan rakyat Indonesia dari tanggal 17 Agustus 1945 sampai 28 Desember 1949.

Sedangkan di dalam bangunan lantai dua, kamu akan menemukan 10 diorama yang menceritakan situasi ketika Belanda menyerang Maguwo pada 19 Desember 1948P, erjanjuan Roem Royen, Serangan Umum 1 Maret, dan Peringtan Proklamasi pada tanggal 17 Agustus di Gedung Agung Yogyakarta.

Di lantai paling atas, kamu akan memasuki tempat hening, ruangannya berbentuk lingkaran dengan tiang bendera yang terdapat bendera merah putih di dalamnya. Nama ruangan ini adalah Garbha Graha, digunakan untuk mendoakan pahlawan dan untuk mengenang jasa-jasa mereka.

Taman Pelangi

Taman Pelangi Jogja

rentalhiacedijogja.com

Selain wisata sejarah, di kawasan Monumen Jogja Kembali juga terdapat taman lampion. Sebuah taman yang dibuka saat sore sampai tengah malam ini menawarkan berbagai macam bentuk dan indahnya cahaya lampion.

Kamu akan disuguhi lampion beraneka bentuk dengan lampunya yang warna-warni. Di tempat ini kamu bisa berfoto dengan latar belakang lampion dan juga menikmati beberapa kuliner di foodcord Monjali.

Fasilitas di Monjali

Saat mengunjungi monumen bersejarah ini, ada berbagai macam fasilitas yang bisa kamu nikmati. Pertama, tentu saja monumen yang berisi sejarah Bangsa Indonesia. Selain itu, Monjali juga memiliki tempat parkir, foodcord, Taman Pelangi, Toilet, dan fasilitas lainnya.

Nah, ketika berkunjung ke Jogja, nggak ada salahnya lho belajar sejarah sambil berwisata. Menanamkan cinta tanah air kepada anak-anak kita, dengan memperlihatkan bagaimana perjuangan para pendahulu kita melawan penjajah yang berusaha menguasai Indonesia tercinta.

Leave a Reply